A Long-Awaited Vacation

Our last vacation was on August 2014, when we had our honey moon in Yogyakarta. The decision and preparation to have that trip was made in haste, but was very much enjoyable and memorable for us. 

Seven months later, we although the memories of Yogya were still fresh in our minds, we began to feel the urge to have another trip and, with our next great days off might still be month away, we figured that a short stroll to Dibai would be good. So, just like Yogya, the plan was made in a short time.

Two of the biggest questions were: Which sites in Dubai that we’re going to visit, and where we’re going to stay? For the first question, we decided that we were going to visit the old Dubai of Bur Dubai area. I guessed that it would be interesting to see what Dubai looked like before its current heyday. 

With the first problem solved, we focused our attention on where we should stay. It made sense that we’d better stayed in a hotel in or near Bur Dubai area. We considered several hotels that seemed to be quite nice, but after some phone calls, we found out that they were already fully booked. Obviously, since Bur Dubai is one of Dubai’s favorite tourism spot, and trying to find an empty hotel spot around that area only two days before date of trip would make the search a little bit difficult, even when our trip was on weekdays. 

Then my wife saw a reference to XVA Hotel, a petit boutique hotel in Bastakiyah. While Bur Dubai is the old Dubai district, Bastakiyah is the oldest neighborhood in That area that still survived.  The old houses and building of Bastakiyah were converted into restaurants, museum, art galleries, and hotels. A quick check revealed that they still had room availabe so I quickly made a booking. Besides, A visit to old Dubai and staying at one of old house of the oldest settlement sounded rhymming and exciting.

Initally, I felt a little bit uncertain if I made a right decision by staying in XVA. The reviews about this hotel are either very good or very unrecommended. Afterall, I didn’t want to take my beloved to a questionable site. But upon checking in, I fell in love with this place. Moreover, my love DID fall in love with it, too, so I felt a huge weight lifted off my shoulders. Installation artist had exhibition at one of the hotel’s main lobby and, by chance, our room was one of the rooms facing this area. It’s like staying inside an art gallery. And since the vintage architecture of the room and building were preserved, we got a glimpse of how the  people of old Dubai must had lived –with a touch of modern way of living, of course, by the presence of hot and cold water and the electric air conditioner.

  

During our two nights stay, we visited coffee museum, Arabian Tea House restaurant, Dubai Museum, Naif Souq, and Dubai Creek, that are either inside the Bastakiyah or within walking distance from XVA. We also went to Dubai Mall by metro, and Miracle Garden car. In general, it was like having a journey through Past and Present Dubai and witnessed the transformation of Dubai from a small village into a global metropolis.

  

All in all, it was two days well spent, and it made me wanting to have even more journeys like this, a journey together with my wife, enjoying life and the history it made. 

And by the way, I just learned that “Dubai” was called “Debai” in its old days. 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Menghilangkan Log On Screen

Saya merasa sangat terganggu dengan log on screen yang muncul di layar HTPC tiap kali saya menyalakan HTPC. Untuk menghilangkan layar tersebut, caranya adalah sebagai berikut:

  1. Tekan tombol Windows-R (tombol windows adalah tombol dengan lambang windows) untuk memunculkan kotak dialog “Run”
  2. Ketik “control userpasswords2
  3. Uncheck opsi “User must enter a user name and a password to use this computer”, lalu tekan tombol “OK” atau “Apply”

  4. Kotak dialog b aru akan muncul untuk menentukan username dan password yang akan dipakai secara otomatis tiap kali windows dinyalakan.
  5. Untuk membuat supaya password juga tidak diperlukan saat windows
  6. Click icon “Power Option” yang ada di “Control Panel”
  7. Click tulisan “Require a password on wakeup” yang ada di sisi kiri layar “Power Option”
  8. Muncul layar baru. Click tulisan “Change setting that are curently available” untuk mengaktifkan kedua radio button yang ada.
  9. Pilih option “Don’t require a password” dan tekan tombol “Save”

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Underscan/Overscan

So, HTPC sudah terakit, TV sudah ditaruh di tempatnya, kabel HDMI sudah dihubungkan ke HTPC dan TV. HTPC saya nyalakan, dan tampilan yang muncul gak bener-bener full screen! Ada pigura hitam selebar 1-2 cm di sekeliling gambar.

Ini gara-gara setting Overscan/Underscan nya ATI. Solusinya, berdasarkan website ini, mudah saja:

Click Kanan di Desktop, dan click Menu Catalyst Control Center

Pindah ke Advanced Mode

Click menu “Graphics”

Pilih menu “Desktops & Displays”

Click kanan icon yang mewakili TV kita, dan pilih menu “Configure”

Aktifkan tab “Scaling Option”

Geser slider yang ada ke kiri atau ke kanan sampai tampilan di TV jadi full screen.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Home Theater Component: Remote

Bayangkan: casing saya sudah dilengkapi dengan remote control. Lalu TV, pasti ada remote-nya.  Demikian pula halnya dengan TV tuner, datang lengkap dengan remotenya.

Pertanyaan: Berapa jumlah remote yang saya butuhkan untuk mengoperasikan semua perangkat tersebut dari jauh?

Karena itu, sebaiknya kita menggunakan universal remote untuk menyatukan semua remote yang kita butuhkan tersebut.

Dan universal remote pilihan saya adalah Logitech Harmony 555, dengan kemampuan sebagai berikut:

  1. Mampu mengontrol sampai dengan 25 jenis perangkat.
  2. Mampu menggabungkan beberapa perangkat ke dalam 1 aktivitas. Jadi misal kita hendak memainkan XBox, kita cukup memilih aktivitas tersebut di menu, menekan tombol ON, dan secara otomatis TV dan XBox menyala. Di lain waktu, kita hendak menonton film, maka cukup dengan 1 tombol, TV dan HTPC yang menyala, dan seterusnya.
  3. Memiliki kemampuan “belajar”. Dengan kemampuan ini, jika ada remote yang “tidak terkenal” alias setting-nya tidak ada di program bawaan, Harmony 555 bisa kita “ajari” bagaimana caranya untuk meniru pola infra red nya.

Sebenarnya ada tipe universal remote lain yang lebih bagus, yang memiliki kemampuan untuk memancarkan infra red dan radio frequency. Tapi apa daya, harganya mahal sekali. ^_^

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Home Theater Component: TV Tuner

TV tuner adalah perangkat tambahan yang memungkinkan komputer menangkap siaran televisi. Beberapa orang beranggapan bahwa HTPC tidak membutuhkan  TV tuner karena fungsinya hanya sebagai media player biasa. Namun teman saya menganjurkan saya untuk melengkapi HTPC dengan TV tuner karena dengan demikian HTPC kita jadi memili kemampuan time shift, yaitu mem-pause siaran TV! Bayangkan nikmatnya bisa menghentikan acara siaran langsung di TV yang sedang seru-serunya saat kita harus menerima tamu yang “gak tau aturan” ^_^.

Saya memilih TV tuner keluaran Hauppauge dengan tipe HVR-2200 yang memiliki feature sebagai berikut:

  1. Mampu menerima siaran digital maupun analog. Di Surabaya siaran TV nya masih analog sih, tapi gak ada salahnya untuk bersiap-siap.
  2. Dapat menampilkan 2 channel sekaligus.
  3. Mampu mengontrol perangkat set-top-box. Set-top-box biasa kita sebut decoder dan biasanya diperlukan untuk menerima siaran TV kabel atau TV satelit. Jika kita selama ini menggunakan set-top-box, maka tanpa kemampuan ini, tuner kita tidak bisa diset untuk merekam acara tertentu dari channel tertentu pada jam tertentu.
  4. Mampu merekam acara tertentu dari channel tertentu pada jam tertentu. Deja vu sama point sebelumnya gak? ^_^
  5. Dilengkapi dengan hardware MPEG encoder. Agar siaran TV analog bisa direkam dan ditampilkan di layar HTPC, siaran tersebut perlu diubah menjadi file bertipe MPEG. Ada beberapa tipe TV tuner yang tidak dilengkapi dengan hardware ini sehingga proses encoder nya diserahkan pada CPU, dan ini bisa jadi masalah kalau CPU kita kemampuannya cuma pas-pasan.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Home Theater Component: Casing

Lagi-lagi atas anjuran rekan saya, sebaiknya casing untuk HTPC tidak berbentuk seperti PC konvensional, supaya tidak tampak menyeramkan. Karena itu saya memilih casing produksi Luxa2 bertipe LM200, karena

  1. Bentuknya sekilas mirip compo, gak mirip PC
  2. Sebagian besar body nya terbuat dari aluminium, dengan harapan mampu membantu membuang panas dari CPU dan GPU.
  3. Sudah dilengkapi dengan kipas ukuran 12 cm, sehingga diharapkan bisa semakin membuang panas dari CPU dan GPU dengan putaran rendah.
  4. Sudah ada LCD yang mampu menampilkan berbagai data dari HTPC seperti temperatur, media yang sedang dimainkan, VU-Level, dan lain-lain. Jadi saya gak perlu repot-repot membeli dan menginstal LCD lagi.
  5. Sudah dilengkapi dengan remote control untuk menyala-matikan HTPC kita, jadi HTPC kita semakin mirip dengan perangkat audio-visual lainnya.
  6. Mendukung 4 expansion slot ukuran full-height, sehingga diharapkan menunjang kebutuhan ekspansi HTPC di masa depan.

Memang dimensinya rada gendut sih, tapi ya bagaimana lagi, casing lain kalau gak terlalu kecil, ya terlalu berisik, atau terlalu mahal. Hehehehehehe…

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Home Theater Componen: NAS

Network Attached Storage atau biasa disingkat NAS sebenarnya cuma sekedar file server biasa. kegunaannya terutama sebagai tempat kita menaruh file-file kita sehingga semua komputer yang terhubung ke network kita bisa mengakses file tersebut. Kebetulan atas anjuran teman saya, saya memilih menggunakan NAS produksi QNAP dengan tipe TS210, dan memiliki kemampuan sebagai berikut:

  1. Sebagai file server tempat saya menaruh file-file media.
  2. Sebagai Media server yang bisa diakses oleh perangkat yang mendukung fasilitas DLNA., misalnya: XBox atau PS3. Bahkan sebenarnya TV saya juga memiliki kemampuan DLNA, tapi saya memutuskan untuk menggunakan HTPC saya sebagai media player karena ada beberapa tipe media file yang tidak bisa dimainkan oleh TV saya.
  3. Sebagai download center. Dengan demikian saya bisa men-download di NAS tanpa perlu menyalakan komputer. Sebuah feature yang sangat berguna di Indonesia, mengingat kapasitas internet Indonesia yang a la kadarnya. ^_^
  4. Gigabit LAN. Ini penting karena kita perlu menyediakan jalur data sebesar mungkin supaya media file kita bisa diakses oleh HTPC dengan lancar.
Posted in Uncategorized | Leave a comment