Home Theater Component: TV

Untuk TV, saya memutuskan untuk menggunakan Samsung LED-Backlit 40 inci series 6000 keluaran tahun 2010 yang diproduksi untuk pasar Eropa. Kode resminya: UE40C6000.

Teknologi LED-Backlit memiliki beberapa keunggulan dibandingkan TV LCD koncensional dan TV plasma. TV LED-Backlit yang saya pilih membutuhkan daya operasional 81 watt, dan hanya 0.06 Watt untuk stand by. Bandingkan dengan TV LED konvensional yang membutuhkan daya operasional di atas 130 Watt, atau TV Plasma yang menyedot daya di atas 300 Watt tiap detiknya. Selain itu, LED juga relatif lebih dingin dibandingka neon (LED konvensional) dan plasma. Jadi saya bisa menikmati HTPC tanpa harus keringetan gara-gara kepanasan atau pun kepikiran tagihan PLN. Teknologi LED backlit juga membuat TV jadi lebih  tipis dan ringan. UE40C6000 tebalnya hanya 3 cm, dengan bobot 12.5 kg.

Untuk produksi tahun 2010, Samsung Seri 6000 adalah seri paling rendah di jajaran produk Samsung yang memiliki feature 100Hz Motion Plus. Ini adalah istilah milik Samsung untuk menamai kemampuan interpolasi frame. Pada intinya, TV akan menampilkan frame tambahan di antara 2 frame gambar yang diterima. Jika siaran standar mengirimkan 24 frame per detik, proses interpolasi ini akan menyebabkan TV menampilkan lebih banyak frame. Efeknya, gerakan di TV tampak lebih halus. Pada TV keluaran Samsung, feature ini bisa dinonaktifkan atau diatur kadar Judder dan Blurnya, karena Efek samping feature ini adalah: film-bioskop akan tampak seperti sinetron. dan beberapa orang tidak menyukai efek samping ini.

Banyak yang menyarankan saya untuk membeli TV dengan ukuran 46 atau bahkan 60 inci. Tapi saya memutuskan bahwa 40 inci sudah cukup besar buat saya karena toh TV saya sebelumnya cuma TV tabung dengan ukuran 20 inci. TV LCD 40 inci sudah merupakan loncatan besar bagi saya. Selain itu, faktor keterbatasan kocek juga membuat saya tidak mengambil ukuran yang lebih besar. Biar lah 2-3 tahun lagi, untuk TV berikutnya, saya akan ambil ukuran 50 inci, kalau rejeki mengijinkan ^_^

Teknologi 3D juga sempat jadi bahan masukan, tapi akhirnya gak saya ambil karena menurut saya, teknologi ini masih terlalu baru, dan biasanya teknologi baru masih memiliki banyak kekurangan. Film 3D untuk konsumsi TV juga masih sedikit sekali. Jadi, biar lah teknologi 3D tumbuh dan berkembang dulu selama 2-3 tahun.

Internet dan DLNA juga tidak saya butuhkan, karena kedua aktivitas tersebut akan saya jalankan dari HTPC, bukan dari TV nya.

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s