Home Theater Component: Wireless Router

Menurut saran teman saya, sebaiknya kita memisahkan HTPC kita dari semua komponen IT lainnya yang ada di rumah kita, supaya konfigurasi media center kita tidak tampak seram. Ini berarti HTPC kita akan terpisah dari NAS sebagai sumber datanya, dan supaya ruangan kita tidak makin penuh dengan kabel-kabel yang berserakan, sebaiknya kita menggunakan koneksi wireless.

Karena beberapa file media yang ada berukuran cukup besar, kita perlu menggunakan koneksi wireless dengan kapasitas besar dan sedapat mungkin bebas dari gangguan. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menggunakan wireless router keluaran Linksys bertipe WRT610N dengan pertimbangan sebagai berikut:

  1. Kemampuan wireless N dengan kecepatan maksimum 300 Mbps.
  2. Dual band 2.4 GHz dan 5GHz. Karena sebagian besar perangkat elektronik yang menggunakan komunikasi data nirkabel beroperasi di frekuensi 2.4 GHz. Saya mengatur supaya frekuensi 5GHz di rumah saya hanya dipergunakan untuk HTPC.
  3. Fasilitas QoS alias Quality of Service. Jika terjadi 2 atau lebih permintaan data yang harus ditangani oleh router, dengan fasilitas ini kita bisa menyuruh sang router untuk mendahulukan file-file dengan tipe tertentu yang diminta oleh perangkat tertentu. Dengan demikian kita bisa mengusahakan agar HTPC kita selalu mendapat prioritas jalur data.
  4. Gigabit LAN untuk menjamin bahwa jalur data dari NAS ke router juga lancar. Jika kita sekedar menggunakan 10/100 LAN. bisa-bisa justru jalur kabel antara NAS dan router lah yang menjadi bottle neck.
Advertisements
Posted in Uncategorized | 1 Comment

Home Theater Component: PC

PC, atau lebih tepatnya HTPC, merupakan inti dari media center yang sedang saya bangun. PC yang digunakan untuk home theater biasanya memiliki beberapa syarat yaitu: Senyap.

HTPC harus sesenyap mungkin. Apa enaknya kalau kita mengengar dengungan kipas PC saat menikmati suara Norah Jones, atau saat menyaksikan Tom Cruise tergantung di ruang server di Langley? Karena itu HTPC ideal harusnya tidak menggunakan kipas sama sekali. Tapi karena udara di Indonesia tidak terlalu mendukung PC tanpa kipas, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan:

  1. Gunakan kipas dengan diameter sebesar mungkin. Makin besar kipasnya, makin banyak volume udara yang bisa dipindahkan, sehingga kecepatan putaran kipas bisa kita set serendah mungkin, karena makin tinggi kecepatan putaran kipas, makin keras dengungan yang ditimbulkannya.  
  2. Batasi panas yang diciptakan oleh PC. Masih berhubungan dengan point 1 di atas, makin sedikit panas yang harus dibuang, makin rendah putaran kipas PC nya. Untuk membatasi panas, jangan gunakan CPU dan GPU dengan kemampuan yang berlebihan. Ingat, kita akan menonton film/mendengar lagu, bukannya menggambar desain arsitektur atau memain game edisi terkini, jadi gunakan CPU dan GPU secukupnya.

Untuk motherboard, saya pilih tipe M4A785G-HTPC keluaran asus karena sudah dilengkapi dengan GPU onboard ATI seri HD 4200, memiliki 4 expansion slot, dan onboard sound system tipe Envy HD yang menurut Asus sanggup mengeluarkan audio sampai dengan 10 channel dengan kualitas loss-less. Speaker yang saya miliki cuma 5.1 sih, tapi dengan gini saya bisa menunda pembelian Audio Receiver sampai kapan-kapan. ^_^

ATI HD 4200 memang bukan GPU tercanggih, tapi sudah cukup memadai untuk memutar film-film Bluray dengan resolusi 1080p.

Jumlah expansion slot juga menjadi faktor penentu, karena siapa tau kemampuan apa lagi yang bisa kita tambahkan ke dalam HTPC kita.

Untuk CPUnya, saya memutuskan menggunakan AMD Athlon II X2 240e. Berdasarkan pencarian saya, ini merupakan tipe AMD yang kebutuhan dayanya paling rendah yang bisa ditangani oleh motherboard saya.

Saya tidak memilih AMD Sempron karena secara TDP, baik Sempron maupun AMD 240e sama-sama membutuhkan daya 45 watt. Sebenarnya saya cukup membutuhkan Intel Atom yang dayanya cuma 8 watt, tapi apa daya, motherboard idaman saya, AT5IONT-I Deluxe, tidak terbit-terbit juga sampai deadline yang saya tetapkan terlampaui.

Untuk memory nya, saya putuskan untuk memasang 4GB sekalian. 512 MB akan dialokasikan untuk GPU, dan sisanya untuk prosesor. Sebenernya 1.5 GB sudah cukup untuk keperluan HTPC, tapi boleh dong sekali-sekali mencoba men-jedog-kan kapasitas memory-nya OS 32 bit, hehe.

Untuk wireless network card-nya, saya memutuskan menggunakan Linksys WMP600N. Wi-fi card ini  memiliki kapasitas untuk terhubung dengan wireless N dengan kecepatan maksimum 300 Mbps, dan bekerja pada frekuensi 2.4 GHz dan 5 GHz alias dual band. Dengan begitu, HTPC bisa memanfaatkan jalur 5 GHz untuk menerima streaming file dari NAS via router, dan jalur 2.4 GHz saya sediakan untuk “khalayak ramai”.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Home Theater Component: TV

Untuk TV, saya memutuskan untuk menggunakan Samsung LED-Backlit 40 inci series 6000 keluaran tahun 2010 yang diproduksi untuk pasar Eropa. Kode resminya: UE40C6000.

Teknologi LED-Backlit memiliki beberapa keunggulan dibandingkan TV LCD koncensional dan TV plasma. TV LED-Backlit yang saya pilih membutuhkan daya operasional 81 watt, dan hanya 0.06 Watt untuk stand by. Bandingkan dengan TV LED konvensional yang membutuhkan daya operasional di atas 130 Watt, atau TV Plasma yang menyedot daya di atas 300 Watt tiap detiknya. Selain itu, LED juga relatif lebih dingin dibandingka neon (LED konvensional) dan plasma. Jadi saya bisa menikmati HTPC tanpa harus keringetan gara-gara kepanasan atau pun kepikiran tagihan PLN. Teknologi LED backlit juga membuat TV jadi lebih  tipis dan ringan. UE40C6000 tebalnya hanya 3 cm, dengan bobot 12.5 kg.

Untuk produksi tahun 2010, Samsung Seri 6000 adalah seri paling rendah di jajaran produk Samsung yang memiliki feature 100Hz Motion Plus. Ini adalah istilah milik Samsung untuk menamai kemampuan interpolasi frame. Pada intinya, TV akan menampilkan frame tambahan di antara 2 frame gambar yang diterima. Jika siaran standar mengirimkan 24 frame per detik, proses interpolasi ini akan menyebabkan TV menampilkan lebih banyak frame. Efeknya, gerakan di TV tampak lebih halus. Pada TV keluaran Samsung, feature ini bisa dinonaktifkan atau diatur kadar Judder dan Blurnya, karena Efek samping feature ini adalah: film-bioskop akan tampak seperti sinetron. dan beberapa orang tidak menyukai efek samping ini.

Banyak yang menyarankan saya untuk membeli TV dengan ukuran 46 atau bahkan 60 inci. Tapi saya memutuskan bahwa 40 inci sudah cukup besar buat saya karena toh TV saya sebelumnya cuma TV tabung dengan ukuran 20 inci. TV LCD 40 inci sudah merupakan loncatan besar bagi saya. Selain itu, faktor keterbatasan kocek juga membuat saya tidak mengambil ukuran yang lebih besar. Biar lah 2-3 tahun lagi, untuk TV berikutnya, saya akan ambil ukuran 50 inci, kalau rejeki mengijinkan ^_^

Teknologi 3D juga sempat jadi bahan masukan, tapi akhirnya gak saya ambil karena menurut saya, teknologi ini masih terlalu baru, dan biasanya teknologi baru masih memiliki banyak kekurangan. Film 3D untuk konsumsi TV juga masih sedikit sekali. Jadi, biar lah teknologi 3D tumbuh dan berkembang dulu selama 2-3 tahun.

Internet dan DLNA juga tidak saya butuhkan, karena kedua aktivitas tersebut akan saya jalankan dari HTPC, bukan dari TV nya.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kenapa Nggak Media Player Aja?

Yup, kenapa aku mesti membangun HTPC sendiri? Kenapa nggak beli media player aja? Di pasaran sudah banyak media player berkualitas yang mampu memainkan berbagai konten multimedia mulai dari gambar sampai movie. Sebut saja Acer Revo, WD TV Live, Asus O!Play, atau Apple TV misalnya. Bentuknya rata-rata simple dan fiturnya canggih-canggih. Harganya juga gak terlalu mahal, berkisar antara 150-600 USD

Jawabannya: Karena aku gak suka terikat. Seberapa canggihnya pun media player, kita tergantung pada fitur yang disediakan oleh produsennya. Kita hampir tidak mungkin menambahkan fungsi-fungsi lain ke dalam media player (Bisa sih difungsikan untuk menyambit kucing kawin atau untuk ganjel pintu, kalo tega ^_^) . Bahkan untuk menambahkan tipe media file untuk bisa dimainkan, kita harus menunggu firmware update dari produsen, yang kadang gak muncul-muncul.

Acer Revo yang berkategori nettop, sebenarnya merupakan alternatif menarik karena kita bisa meng-instal operating system di sana, menambahkan codec apa pun yang kita butuhkan untuk memainkan media file favorit kita, ataupun memasang berbagai aplikasi lain yang menunjang fungsi nya sebagai media center (yang tidak menunjang juga gak apa-apa sih). Tapi ukurannya yang mungil membatasi kemungkinan ku untuk meng-upgrade hardware-nya di kemudian hari.

Selain itu, buatku pribadi, kegiatan me-review berbagai alternatif komponen HTPC merupakan aktivitas yang menarik. Tidak selalu menyenangkan, memang. Seringkali aku harus berahadapan dengan penjelasan yang tidak jelas mengenai beberapa produk sejenis yang dikeluarkan oleh produsen yang berbeda. Marketing gimmick juga membuat proses komparasi jadi makin memusingkan. Tapi semua itu tetap menarik bagiku pribadi. Temanku selalu berkata: “HTPC is not about destination. It’s about a journey”. Dan memang proses pembangunan HTPC bagiku merupakan proses yang aku nikmati.

*) semua nama produk yang disebut dalam tulisan ini adalah merk terdaftar milik produsen masing-masing

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Acknowledgement…

Thx to Kris, minatku untuk membangun HTPC berawal dari bincang-bincang santai dengan dia.

Thx to Emit Remus, riset dan reviewku terhadap komponen-komponen HTPC bisa lebih singkat dan terfokus. Semoga aku bisa belajar dari pengalaman-pengalamannya, dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah dia lakukan, karena di dunia hardware, setiap kesalahan bisa memiliki konsekuensi moneter yang menyakitkan. ^_^

Posted in Uncategorized | Leave a comment